Demam berdarah ialah penyakit musiman yang kini kian mewabah terutama penyakit ini akan kita temui di musim penghujan panjang sehingga menambah daerah endemis untuk nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Nyamuk aedes siap menghisap darah manusia yang dijumpainya hinggap radius 100 meter, dan setiap orang yang berada di zona itu berpotensi tertular demam berdarah dengue (DBD) menurut Dr. Nasronuddin, Spesialis Penyakit Dalam, RSUD Dr. Soetomo, dalam 1st Indonesia Simposium Pediatric Anestesi & Critical Care di Surabaya awal Desember lalu, infeksi virus dengue bersifat akut. Manifestasinya bisa dalam bentuk ringan tanpa gejala (silent dengue infection) dan demam dengue.
Demam dengue ditandai dengan panas badan yang mendadak tinggi, muntah, nyeri kepala, serta nyeri otot dan sendi. Seringkali tenggorokan juga terasa nyeri dengan kondisi faring memerah (hiperemi). Gejala tersebut tampak jelas pada demam dengue. Pada umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya.
Selanjutnya, spektrum klinis DBD yang tampak berat bila disertai perdarahan dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Gejala dominan DBD adalah adanya hepatomegali dan kelainan fungsi hati. Pada DBD juga terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan kebocoran plasma (plasma leakage) dari pembuluh darah. Kebocoran ini mengakibatkan isi pembuluh darah berkurang dan berakibat syok hipovolemik. Sering dijumpai pula ascites dan efusi pleura karena perembesan plasma yang menyebabkan ekstravasasi cairan di dalam rongga pleura serta peritoneal selama 24 hingga 48 jam. Diagnosis yang Terlambat Berakibat Fatal
Pada dasarnya DB tidak sampai menyebabkan kematian jika diagnosis dini segera ditegakkan. Keterlambatan terapi dapat menghantarkan pasien pada stadium Dengue Shock Syndrome (DSS). Inilah kondisi infeksi demam berdarah yang paling menakutkan, karena terjadi perdarahan masif di seluruh vaskular tubuh. Akibatnya, pasien bisa jatuh dalam keadaan shock.
Shock ditandai meningkatnya permeabilitas pembuluh darah di seluruh tubuh. Keadaan ini mengakibatkan transudasi sebagian besar plasma yang mengisi kompartemen darah vaskular ke extravaskular, terutama ruang antar sel. Kehilangan plasma dalam waktu lama inilah yang menyebabkan penderita jatuh dalam kondisi DSS. Tanda dari kebocoran plasma tersebut adalah meningkatnya PCV (Packed Cell Volume), hematocrit (Hct), hemoglobin (Hb), hypoproteinemia, dan hipoalbuminemia. Darah akan semakin kental (viskus) sehingga terjadi penurunan aliran darah. Adanya penurunan aliran darah secara global berdampak pada penurunan oksigenasi dan suplai nutrisi ke organ-organ tubuh. Bila otak sebagai organ yang sangat sensitif terhadap suplai oksigen mengalami hipoksia karena oksigenasi yang kurang, dapat dipastikan shock dan penurunan kesadaran akan terjadi. Jika dibiarkan pasien dapat mengalami koma. Di sinilah kegawatan terminal dari episode DSS yang paling dikhawatirkan, karena dapat menimbulkan kematian.
Untuk mendukung diagnosis, uji serologi bisa dilakukan jika terdapat fasilitas yang memadai. Uji hemaglutinasi inhibisi menunjukkan terdapat serum akut < 1:20, serum konvalesens naik 4x atau lebih namun tidak melebihi 1:1280. Hal ini menunjukkan infeksi pada pasien adalah infeksi primer. Infeksi sekunder mungkin terjadi jika serum akut > 1280.
Pemeriksaan radiologi terlihat pada dada seperti adanya cairan di cavum thorax (efusi pleura). Kelainan radiologi pada hemithoraks kanan tampak adanya pembuluh darah paru terutama di hilus kanan. Hemithorax lebih radioopaque dibanding sisi sebelah kiri. Melalui USG dinding thoraks dan abdomen, didapatkan efusi pleura, kelainan kandung empedu dan dinding kandung kemih.anda yang khas pada demam berdarah adalah adanya petekie (manifestasi perdarahan subcutan dalam bentuk bercak merah di kulit). Namun seringkali petekie dan perdarahan lainnya baru muncul jika trombosit pada level < 18.000. Jika belum ada tanda-tanda perdarahan, sebaiknya segera periksa rumpel leede. Rumpel leede positif menunjukkan adanya gangguan pada tingkat vaskular dan trombosit. Artinya kerusakan endotel pembuluh darah karena infeksi dengue telah terjadi.
Pada dasarnya jumlah trombosit pada pasien demam berdarah normal, namun karena trombosit ditempeli dengan kompleks imun, sehingga trombosit tersebut tidak dapat berfungsi dengan normal. Jika diperiksa PCV, ada dua kemungkinan. Jika PCV naik diiringi dengan peningkatan kadar Hb/Hct yang terjadi adalah perpindahan plasma saja. Namun bisa saja terjadi PCV turun yang menunjukkan adanya perdarahan spontan yang masif. Inilah yang membedakan terapi infus yang akan diberikan. Pada DBD tanpa syok (grade 1dan 2), terapi cukup dengan pengobatan simtomatis dan antipiretik parasetamol (jangan aspirin). Jika terjadi ensepalopati diberikan antibiotik dan kortikosteroid, kecuali jika ada perdarahan saluran cerna. Cairan intravena diberikan bila penderita muntah, tidak mau minum, demam tinggi dan dehidrasi.
Sementara, DBD dengan komplikasi DSS (derajat 3 dan 4), penggantian volume plasma yang hilang harus segera dilakukan. Pertama, dengan memberikan cairan kristalloid (ringer laktat) 15 ml/kg BB/jam. Jika terdapat gangguan hati, sebaiknya diberikan cairan ringer asetat. Karena dengan ringer laktat, hepar akan bekerja lebih keras untuk mengubah laktat menjadi bikarbonat. Setelah 15 menit, kemudian dievaluasi. Jika tensi tidak meningkat, dosis ditingkatkan menjadi 20 ml/kg BB/jam. Dalam waktu 20 menit, apabila syok belum teratasi, ringer laktat tetap diberikan dengan ditambah koloid (albumin dan hydroethylstarch/koloid sintetis) 20-30 ml/kg BB/jam, maksimal 1500 m/hari. Mengapa penting untuk memberi cairan koloid? Karena setelah 24 jam, cairan koloid yang tersisa di rongga pembuluh darah masih sekitar 40% dari seluruh jumlah pemberian. Sedangkan cairan kristalloid hanya menyisakan 25%-nya saja. Cairan koloid bermolekul besar sehingga lebih sedikit yang mengalami ekstravasasi karena peningkatan permeabilitas vaskular, sehingga mampu menahan jumlah volume cairan intravaskular.
Koloid dan kristalloid berbeda dalam hal jumlah molekul. Kristalloid memiliki berat molekul sekitar 8 Kda (Kilo Dalton). Pemberian koloid pun harus tepat. Koloid dengan BM yang terlalu tinggi (>800 KDa) tentunya akan memberikan efek hipertonis dalam cairan darah. Konsentrasi salah satu jenis koloid, Dekstran (550 Kda) juga masih terlalu tinggi untuk infus pasien DBD. Yang ideal adalah cairan yang isotonis dan isoosmotik dengan cairan tubuh, yakni konsentrasi sekitar 100-300 KDa. Perlu hati-hati pula dengan pemberian koloid yang terlalu banyak. Karena bisa menyebabkan volume vaskular overload sehingga beban jantung meningkat yang berakibat decompensatio cordis (payah jantung).
Setelah 24 jam pasca syok cairan tetap diberikan sebanyak 10 ml/kg bb. Bila tanda vital baik, volume cairan dapat diturunkan menjadi 7 ml/kg bb, selanjutnya 5 ml, dan 3 ml. Jumlah urine > dari 2 ml kg bb/ jam merupakan indikasi bahwa sirkulasi telah membaik. Jika syok belum teratasi juga, oksigen layak untuk diberikan. Analisis gas darah diperlukan untuk koreksi kedaan asidosis metabolik dan elektrolit. Bila terdapat gangguan koagulopati (Disseminated Intravascular Coagulation) perlu diberikan terapi plasma segar beku dan suspensi trombosit untuk mencegah perdarahan lebih hebat lagi.
Setelah hemodinanik stabil, pasien diterapi rumatan (maintenance) dengan infus kristalloid dosis rumatan (3 ml/kg/jam). Setelah itu lanjutkan dengan dekstrosa agar tidak terjadi ketosis. Pemberian nutrisi anti radikal bebas yang biasa kita sebut antioksidan dirasa sangat perlu. Bisa terdiri dari makanan yang mengandung vitamin C, vitamin E, β-Karoten dan Selenium.
Sebagai praktisi kesehatan, seorang dokter harus waspada dengan pasien yang mengalami infeksi dengue. Suatu kesalahan yang fatal apabila dokter sampai missdiagnosis DBD. Karena jika hal tersebut terjadi, pasiennya mungkin akan mengalami kematian karena DSS seperti yang dikabarkan oleh media akhir-akhir ini. (Iffa/Surabaya)
Keampuhan Jelly Gamat untuk penderita Demam Berdarah Dengue
Menurut Prof Ridzwan Hashim dari Universitas Kebangsaan Malaysia, teripang mampu menurunkan tekanan darah lantaran kaya glikosaminoglikan. Senyawa itu berefek mengencerkan darah sehingga melancarkan cairan yang tersumbat. sedangkan spirulina, suplemen kaya antioksidan dan kalsium spirulan itu menghambat perkembangan sekaligus mematikan virus. kandungan zat besi dan vitamin B12 spirulina meningkatkan haemoglobin darah. Gamat dan spirulina, dua suplemen terbaik bersatu padu menggempur DBD yang sedang mewabah
Obat demam berdarah Jelly Gamat dipercaya mampu menetralisir keasaman lambung yang meningkat, mengencerkan darah kental akibat turunnya trombosit, memperbaiki sirkulasi yang terhambat sebagai efek samping terjangkit virus dengue
Incoming search terms:
- cara penyembuhan demam berdarah dengan alternatif
- penanganan demam berdarah
- kenapa gejala penderita dbd menunjukkan adanya manifestasi pendarahan
- penyakit demam berdarah dan pengobatan menurut dokter
- pengobatan alternatif buat DBD
- pengobatan alami penyakit demam berdarah
- tertular dbd orang sekitar
- pengobatan alami dbd
- penanganan efusi pleura disertai syok
- penanganan effusi pleura dhf



